Maret 24, 2009 oleh swayya
Ikhwan/akhwat sekalian saya mau minta tolong untuk mencarikan info tentang obat/jamu suplemen berikut:
1. Cellfood
2. Health pack
3. Wakasa Gold
4. Hepar-p
Tolong kalau ada yang tau hubungi saya di no hp ni yah: 081335521837, saya lagi ada kepentingan dengan obat/obatan atau jamu tersebut. afwan, kalau bisa secepatnya… syukron qoblahu. jazakumullah khairan….
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Januari 29, 2009 oleh swayya
Pada saat saya tulis sms kepada seorang teman yang sebenarnya dekat di hati, saya katakan bahwa “banyak persoalan yang ada insya Allah akan segera berkurang”.
Akan tetapi sms itu seolah-olah kurang diperkenankan oleh Allah, sehingga sesaat setelah sms itu terkirim, datang sebuah berita bahwa ibu (sosok yang sangat saya sayangi) sakit. yang lebih mengejutkan adalah bahwa sakitnya agak serius, sebuah gejala penyakit yang tidak biasa.
Dalam keadaan yang seperti ini saya tidak bisa menggantungkan masalah ini kepada siapapun kecuali Allah, akan tetapi bukan berarti saya tidak berusaha. saya akan berusaha demi untuk mengembalikan keadaan seperti semula, dan itu berarti ibu harus sembuh.
Sumber motivasi kedua dalam hidup saya setelah kepergian Bapak menghadap Yang Kuasa/Allah Swt, adalah Ibu.
Maka dalam kesempatan yang baik ini, saya mohon do’a dari ikhwan/akhwat sekalian untuk kesembuhan beliau. dan kami juga mendo’akan agar ikhwan/akhwat sekalian selalu dalam keadaan sehat wal ‘afiat tiada kurang suatu apa, serta semuanya selalu dilimpahi Rahmat Allah Swt dalam situasi dan kondisi, amin.
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Desember 26, 2008 oleh swayya
Saat ini mungkin masing-masing dari kita berada ditengah-tengah cobaan hidup yang begitu berat. sehingga kemanapun kaki melangkah ingin rasanya menemukan solusi untuk segera melewati banyak hal yang tidak mengenakkan dalam hidup.
Dan jika kita ditanya, kemanakah kita mencari solusi untuk mengatasi kesulitan hidup, pasti jawabannya lebih dari satu jawaban. namun yang perlu kita ingat bersama bahwa solusi hidup sebenarnya telah ada dan disiapkan oleh Allah Swt semenjak terdengar tangisan pertama kita di muka bumi ini. ini berarti bahwa alternatif utama selain bersungguh-sungguh untuk keluar dari ujian adalah memperbaiki hubungan kita dengan Allah Swt Sang Pencipta kita; Bacalah Al-Qur an, Perbanyaklah rakaat sholat sunat kita, Bersedekahlah, Lakukanlah kebaikan sekecil apa pun, insya Allah kita akan menjalani semuanya dengan baik.
Anggaplah saat yang paling sulit ini adalah saat yang paling indah dalam hidup kita, karena justru pada saat seperti inilah saat dimana seorang hamba berada pada titik yang paling dekat dengan Allah. sehingga rintihan yang paling lirih pun akan didengar, dan doa yang paling khusyu’ akan dikabulkan.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Oktober 12, 2008 oleh swayya
Semakin dewasa seseorang semakin sadar ia akan betapa beratnya tantangan yang dihadapi dalam perjalanan hidup ini. tapi perlukah kita mundur?
Tidak, adalah sebuah jawaban yang terbaik, karena kita telah seringkali tertimpa apa yang harus menimpa kita, telah terbentur apa yang harus membentur kita, tertindas apa yang harus menindas kita, telah terhimpit apa yang harus menghimpit kita, dan lain sebagainya akan tetapi kita masih tetap bisa berdiri tegar hingga detik ini. ini adalah suatu bukti bahwa Allah telah mempersiapkan sebaik mungkin kondisi fisik dan kejiwaan kita untuk mampu bertahan dan bangkit dari hal-hal yang bersifat ujian dan cobaan dalam hidup ini.
Bangun dan berlarilah, bangkit dan meloncatlah untuk segera mencapai apa yang harus kita capai, jangan pernah terjebak dengan perasaan berat, lelah, galau, dan lain-lain. sebab berhentinya kita pada sebuah rasa yang negatif berarti telah mengubur diri kita sendiri.
Kemarin kita tersenyum bahagia, tertawa gembira karena telah terlepas dari segala dosa dan kesalahan antara sesama setelah kita bermaafan. dari rasa bahagia inilah biasanya gairah untuk berbuat menjadi meluap-luap, dan saat inilah waktu yang terbaik untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin. demikianlah….
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
September 26, 2008 oleh swayya
Allah Ta’ala berfirman: “Artinya : Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian meng-Agung-kan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur”. (Al-Baqarah: 185)
Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir”.[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah]. Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani: “Dalam hadits ini ada dalil disyari’atkannya melakukan takbir secara jahr (keras/bersuara) di jalanan menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Akan tetapi ada pendapat yang juga shahih bahwa takbir tidak harus dilakukan bersama-sama satu suara dipimpin oleh seorang imam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahullah menjawab: “Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat”. [Majmu Al -Fatawa 24/220 dan lihat 'Subulus Salam' 2/71-72].
Aku katakan : Ucapan beliau rahimahullah : ‘(dilakukan) setelah selesai shalat’ -secara khusus tidaklah dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa pengkhususan. Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari dalam kitab ‘Iedain dari “Shahih Bukhari” 2/416 : “Bab Takbir pada hari-hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah”.
Umar Radliallahu ‘anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara takbir.
Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya. Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid”.
Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat "Irwaul Ghalil' 650]
Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh: Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu. “Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]
Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar ‘alaa maa hadanaa.
“Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita”. [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]
Abdurrazzaq[3] -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam “As Sunanul Kubra” (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata, “Artinya : Agungkanlah Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira”.
Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam “Fathul Bari (2/536) : “Pada masa ini telah diada adakan suatu tambahan[4] dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalanya”. Demikianlah.
Seiring tetesan embun yang fitri dari dahan-dahan yang hijau, kami mengucapkan: “Selamat hari raya Idul Fithri 1429 H, mohon maaf lahir bathin, apabila ada kesalahan ataupun hal yang kurang tepat dalam mengutip kata-kata dan menambah kata. Taqabbalallahu minna a’malina wa minkum a’malukum taqaabbal ya Allah taqabbal ya karim, mudah-mudahan jiwa kita kembali ke fitrah yang suci, amin.”
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »