Feeds:
Tulisan
Komentar

Saudara-saudara se-aqidah yang kami muliakan, mungkin dalam pergaulan kita sehari-hari terutama di bulan Ramdhan yang suci ini masih ada disekeliling kita orang yang tidak sungkan atau tidak peduli membatalkan puasa mereka tanpa alasan yang jelas, yaitu alasan yang telah ditetapkan agama Islam untuk membatalakan puasa. Kemudian kita bertanya kepada diri kita jika tidak kepada orang lain, apa balasan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja tanpa alasan yang jelas, apakah mereka mendapat dosa. Kali ini kita akan menyimak pendapat para ulama yang diperkuat dengan dalil-dalil yang jelas.

Dari Abu Umamah Al-Bahili Ra., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Sawbersabda. yang artinya: “Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dhahaya[ dua lenganku], membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata, “Naik”. Aku katakan, “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, ‘Kami akan memudahkanmu’. Akupun naik hingga sampai ke puncak gunung, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Akupun bertanya, ‘Suara apakah ini?’. Mereka berkata, ‘Ini adalah teriakan penghuni neraka’. Kemudian keduanya membawaku, ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka. [ Sebelum tiba waktu berbuka puasa].” [Riwayat An-Nasa'i dalam Al-Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 4/166 dan Ibnu Hibban (no.1800-zawaidnya) dan Al-Hakim 1/430 dari jalan Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Salim bin 'Amir dari Abu Umamah. Sanadnya Shahih]
Demikianlah balasan bagi mereka yang membatalkan puasa tanpa alasan, mereka akan mendapatkan siksa yang pedih kelak di ‘hari kemudian’, langkah malangnya orang yang seperti itu. Padahal telah banyak keterangan yang menjelaskan secara gamblang bagaimana kita seharusnya melaksanakan puasa dalam Islam. Hal ini perlu kita bahas di masa-masa awal perjalanan spiritual kita di bulan suci ini agar saudara-saudara sekalian punya pegangan yang kuat dalam menjalankan syari’at agama kita, sehingga kita beribadah dengan dasar pengetahuan agar tidak mudah tergoda ataupun terjerumus kepada hal-hal yang bisa merusak nilai puasa, apalagi sampai membatalkannya. Na’udzubillah

ADAB BERPUASA
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa sajakah adab (tata cara) berpuasa ?
Beliau menjawaban:
Pertama, membiasakan diri bertakwa kepada Allah Swt dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, sesuai dengan firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.“ [Al-Baqarah: 183]
Kedua, meninggalkan dusta, Sesuai pula dengan sabda Nabi Saw, yang Artinya: Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan mengerjakan kedustaan, maka Allah tidak butuh kepada amalannya dalam meninggalkan makanan dan minumannya. [Diriwayatkan oleh]
Ketiga, memperbanyak sedekah, amal kebaikan, berbuat baik kepada orang lain, terutama di bulan Ramadhan, sungguh Rasulullah Saw adalah orang yang paling dermawan, beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan tatkala Jibril menjumpainya untuk bertadarrus Al-Qur an. [Diriwayatkan oleh]
Keempat, menjauhi apa yang diharamkan Allah berupa kebohongan, mencela, mencaci, menipu, khianat, melihat barang yang haram, mendengarkan hal yang haram, serta perbuatan haram lainnya yang harus dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa dan teman-temannya yang lain, tetapi terhadap orang yang puasa lebih dikuatkan perintahnya.
Kelima, makan sahur, mengakhirkan sahur, sesuai sabda Nabi Saw, yang artinya: Makan sahurlah kalian karena di dalam sahur ada barokah [Diriwayatkan oleh Bukhari].
Keenam, berbuka puasa dengan kurma basah (matang), jika tidak didapatkan boleh dengan kurma kering, jika itupun tidak diperoleh maka dengan air, menyegerakan berbuka tatkala telah jelas benar tenggelamnya matahari, atau dia benar-benar yakin bahwa matahari telah tenggelam, berdasarkan sabda Nabi Saw, yang artinya: Senantiasa orang banyak berada dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa. [Diriwayatkan oleh Bukhari: Kitab Shaum. Bab: Menyegerakan buka puasa]

Targhib Puasa Ramadhan

Layaknya suatu hal yang agung dan tinggi derajatnya, puasa menjadi salah satu prioritas utama untuk mengetahui kadar keimanan seorang hamba. Dan betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah Swt, dalam berbagai ungkapan ayat-ayatNya Allah Swt menjelaskan berkali-kali akan pentingnya puasa dan bulan Ramadhan bagi kehidupan seorang hamba.

Jika kita cermati lebih lanjut maka kita akan segera melihat kandungan bulan suci Ramdhan ini, diantaranya adalah:

[1]. Pengampunan Dosa
Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa, dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini.
Dari Abu Hurairah Ra. dari Nabi Saw, (bahwasanya) beliau bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759. Makna "Penuh iman dan Ihtisab' yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya]
Dari Abu Hurairah Ra. juga, -Rasulullah Saw pernah bersabda. yang artinya: “Shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar” [Hadits Riwayat Muslim 233]
Dari Abu Hurairah Ra. juga, (bahwasanya) Rasulullah Saw pernah naik mimbar kemudian berkata: Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin]

[2]. Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka
Rasullullah Saw bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo’a akan dikabulkan do’anya” [Hadits Riwayat Bazzar 3142, Ahmad 2/254 dari jalan A'mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain, haditsnya Shahih. Do'a yang dikabulkan itu ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya, lihat Misbahuh Azzujajah no. 60 karya Al-Bushri]

[3]. Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada
Dari ‘Amr bin Murrah Al-Juhani[Al-Ansab 3/394 karya As-Sam'ani, Al-Lubap 1/317 karya Ibnul Atsir] Ra., ia berkata : Datang seorang pria kepada Nabi Saw kemudian berkata : “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ?” Beliau menjawab. yang artinya: “Termasuk dari shidiqin dan syuhada” [Hadits Riwayat Ibnu Hibban (no.11 zawaidnya) sanadnya Shahih]

Demikianlah puasa dengan segala muatannya yang begitu mempesona bagi hamba-hamba yang beriman. Maka marilah kita bersama-sama berusaha mencapai keutamaan-keutamaan serta hikmah-hikmah yang ada hanya pada bulan Ramadhan ini. Adalah sebuah kebahagian tersendiri bagi orang yang bisa mencapai tujuan secara maksimal, dan bisa mencapai pahala yang disediakan Alla Swt.

Total tak ternilai

Suatu sore seorang anak menghampiri ibunya di dapur, ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya beberapa daftar imbalan dari ibu bagi setaip pekerjaan ia lakukan:
Untuk memotong rumput 2 dinar
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini 1 dinar
Untuk pergi ke toko disuruh ibu ½ dinar
Untuk jaga adik waktu ibu belanja ½ dinar
Untuk membuang sampah 1 dinar
Untuk nilai bagus dalam ulangan 3 dinar
Untuk membersihkan dan menyapu halaman ½ dinar
Jadi jumlah utang ibu adalah 8 ½ dinar

Sang ibu memandang anaknya dengan penuh harap, berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu, lalu ia mengambil pulpen dan menulis dibalik kertas itu:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk mengobati dan mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu gratis
Untuk semua makanan, minuman, mainan, dan tulusnya kasih sayang ibu, semuanya gartis
Anakku… kalau kamu menjumlahkan seluruh yang dari ibu semuanya adalah, Gratis.
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya dan berkata: ”Ibu aku sangat menyayangi ibu.” kemudian ia mengambil pulpen dan menuliskan sebuah kata dengan huruf besar: ’LUNAS’.

Terlahirlah ia kemudian

Tiap tahun pada malam 17 Agustus, aku baca cerita fiksi ini. karena malam itu membuat aku seolah-olah akan lahir kembali dikeesokan harinya dengan semangat baru, dan yang lebih penting lagi untuk mengingat betapa pentingnya arti kehadiran ibu di dalam hidup kita.

Alkisah. Ada sebuah cerita fiksi, tentang seorang bayi yang hendak dilahirkan ke dunia. Maka ia bertanya kepada Allah: “ya Tuhanku, Engkau akan mengirimku ke dunia, tapi aku takut, aku masih terlalu kecil dan tidak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungi aku disana? Tuhanpun menjawab: “Diantara malaikat-Ku, Aku akan mengutus satu malaikat khusus untukmu. Dia akan merawatmu danmengasihimu.”
Si kecil bertanya lagi: ”Tapi disini, di alam yang aku tempati ini, aku tidak berbuat apa-apa kecuali tersenyum dan berbahagia.” Tuhan menjawab: ”Tak apa, malaikat itu akan selalu membuatmu tersenyum dan menghiburmu setiap hari, kamu akan merasakan cinta dan kasih sayangnya, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.” Namun si kecil bertanya lagi: ”Bagaimana aku akan mengerti ucapan mereka jika aku tidak tahu bahasa yang mereka pakai?” Tuhan menjawab: ”Malaikat itu akan membisikkan kata-kata yang paling indah, dia akan selalu sabar ada disampingmu, dengan kisahnya ia akan mengajarkanmu bahasa manusia.”
Si kecil bertanya lagi: ”lalu bagaimana jika aku ingin bicara kepadamu ya Tuhanku?” Tuhan kembali menjelaskan: ”Malaikat itu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdo’a.” Namun lagi-lagi si kecil menyelidik: ”Namun aku dengar disana banyak sekali orang jahat, siapa yang akan melindungi aku?” Tuhanpun menjawab: ”Tenanglah malaikatmu akan terus melindungimu, walaupun kadang nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.”
Namun kini si kecil justru bersedih dan berkata: ”ya Tuhan, tentu aku akan sedih jika tidak bisa melihat-Mu lagi?” Tuhan menjawab lagi: ”Malaikatmu akan mengajarkanmu tentang keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu, bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia juga akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Dan Akupun akan selalu sangat dekat denganmu.”
Hening. Kedamaianpun tetap menerpa alam itu. Namun suara-suara panggilan dari alam dunia terdengar sayup-sayup. ”ya Tuhan aku harus pergi sekarang, tolong, sebutkan nama maliakat yang akan melindungiku…” Tuhan kembali menjawab: ”nama malaikat tidak terlalu penting, kamu akan memanggilnya dengan sebutan: Ibu..”

mudah-mudahan cerita ini juga berarti bagi semua.

Seberapa kayakah kita

Alkisah, menceritakan seorang raja yang sukses besar pada zamannya, namun karena keshalehannya dan kearifannya semua kesuksesan itu dianggapnya bukan apa-apa dibandingkan dengan Syurga Allah;
Diriwayatkan seorang raja berhasil membangunkan kota dengan segala keperluannya yang cukup megah. Kemudian raja itu mengundang rakyatnya untuk berpesta ria menyaksikan kota itu. Pada setiap pintu, penjaga diperintahkan untuk menanyai setiap pengunjung adakah cela dan kekurangan kota yang dibangunnya itu.
Hampir seluruh orang yang ditanyai tidak ada cacat dan celanya. Tetapi ada sebahagian pengunjung yang menjawabnya bahwa kota itu mengandungi dua cacat celanya. Sesuai dengan perintah raja, mereka ditahan untuk dihadapkan kepada raja.
“Apa lagi cacat dan cela kota ini?” tanya raja. “Kota itu akan rusak dan pemiliknya akan mati.” Jawab orang itu. Tanya raja, “Apakah ada kota yang tidak akan rusak dan pemiliknya tidak akan mati?”
“Ada. Bangunan yang tidak akan selamanya dan pemiliknya tidak akan mati.” Jawab mereka.
“Segera katakan apakah itu.” Desak raja.
“Syurga dan Allah pemiliknya,” jawabnya tegas.
Mendengar cerita tentang syurga dan segala keindahannya itu, sang raja menjadi tertarik dan merinduinya. Apa lagi ketika mereka menceritakan tentang keadaan neraka dan azabnya bagi manusia yang sombong dan ingin menandingi Tuhan. Ketika mereka mengajak raja kembali ke jalan Allah, raja itu pun ikhlas mengikutinya. Ditinggalkan segala kemegahan kerajaannya dan jadilah ia hamba yang taat dan beribadah kepada Allah.

Lalu bagaimanakah kita, kayakah kita, sekaya raja tadikah kita?

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »